Tiga Penyebab Banjir Bontang Menurut Pakar

Bontang. Persoalan banjir di Kota Bontang yang terjadi setiap tahun, mengundang perhatian serius pakar drainase Universitas Mulawarman, Thamrin. Menurutnya, banjir yang kerap terjadi disebabkan tiga hal, yakni gundulnya tanaman di area dataran tinggi, tepatnya di kawasan Kabupaten Kutai Timur yang diperparah dengan kondisi pasang air laut. Kemudian saluran drainase yang berada di tengah kota belum berfungsi optimal, serta penerapan tata guna lahan di Kota Bontang.

Thamrin menilai, gundulnya hutan di area dataran tinggi menyebabkan air kiriman mengalir deras ke wilayah Bontang, diperparah kondisi pasang surut air laut dan saluran drainase yang tidak mampu mengalirkan air. Sehingga menyebabkan genangan air memenuhi sebagian wilayah Bontang.

“Berdasarkan hasil kajian, tata guna lahan di Kota Bontang salah dan menyebabkan hilangnya daerah resapan air,” kata Thamrin, saat menghadiri rapat dengar pendapat (RDP) bersama pansus banjir DPRD Bontang, serta dan anggota DPRD Provinsi Kalimantan Timur beberapa waktu lalu.

Guna mengatasi kondisi tersebut, Thamrin merekomendasikan pembangunan bendungan Suka Rahmat, untuk mengontrol masuknya air ke Bontang. Sebab pendirian bendungan dinilai mampu mengganti fungsi hutan sebagai resapan air yang telah gundul. Selain itu Pemerintah Kota juga diminta mengoptimalisasi danau Kanaan, serta perbaikan tata guna lahan di Kota Bontang.

Menurut Thamrin, Pemkot Bontang saat melakukan perencanaan pembangunan jangan hanya menyesuaikan jumlah penduduk, namun memprediksi jumlah penduduk yang akan mendiami wilayah. Oleh karenanya, pemkot Bontang diminta tegas dalam mengubah daerah resapan air, untuk dikembalikan sesuai fungsinya.

Disisi lain, ia juga menyoroti saluran drainase Kota Bontang yang dinilai terlalu sempit. Yakni dengan lebar hanya 6 meter.

“Seharusnya drainase yang dibangun Bontang seperti Makassar, membutuhkan lebar 15 – 20 meter untuk menangani banjir,” pungkasnya.(*)

Laporan: Sary | Mansur