Samarinda. Ancaman banjir dari bendungan bekas galian tambang di Kelurahan Bukuan membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda bergerak cepat. Normalisasi aliran air dilakukan sebagai langkah antisipasi untuk mencegah luapan yang berpotensi berdampak pada sekitar 200 kepala keluarga di wilayah terdampak.
Bendungan bekas galian tambang yang berada di kawasan Jalan AMD, Kecamatan Palaran, kerap meluap saat curah hujan tinggi. Kondisi tersebut mengancam permukiman warga di sekitarnya, khususnya di RT 40, RT 43, dan RT 44 Kelurahan Bukuan. Keluhan warga terkait potensi banjir ini sebelumnya telah disampaikan kepada pihak kelurahan dan kecamatan.
Menindaklanjuti hal tersebut, Pemerintah Kota Samarinda melalui BPBD melakukan normalisasi aliran air sebagai langkah pencegahan dini. Kegiatan ini merupakan hasil rapat koordinasi antara BPBD, pihak kelurahan, dan kecamatan guna meminimalkan risiko banjir di kawasan rawan genangan.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda, Suwarso, mengatakan pembukaan aliran air dilakukan secara bertahap agar tidak menimbulkan luapan ke permukiman warga. Pada tahap awal, normalisasi dilakukan sepanjang sekitar 100 meter dan selanjutnya akan diperluas serta diarahkan menuju Sungai Gelinggang.
“Pembukaan aliran air dilakukan secara bertahap agar debit air bisa terkendali dan tidak meluap ke rumah warga. Nantinya aliran akan kami arahkan ke Sungai Gelinggang,” ujar Suwarso.
Langkah antisipasi ini dinilai penting mengingat tingginya intensitas curah hujan yang diperkirakan masih akan berlangsung hingga April mendatang. Jika tidak dilakukan penanganan sejak dini, banjir dikhawatirkan dapat berdampak pada ratusan kepala keluarga di wilayah tersebut.
BPBD berharap, melalui normalisasi aliran air ini, risiko banjir di Kelurahan Bukuan dapat ditekan dan memberikan rasa aman bagi masyarakat yang tinggal di kawasan rawan genangan.
