Bontang. PT Pupuk Kalimantan Timur menggelar seminar “Facing The Disruption Era” session 2, Selasa 28 Februari 2017, di Gedung Mahoni Kantor Pusat Pupuk Kaltim.
Seminar tersebut dihadiri Rhenaldi Kasali, motivator andal yang juga guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, sekaligus Komisaris Utama PT Angkasa Pura 2.
Selain itu hadir pula jajaran Direksi, Manajemen, Karyawan Pupuk Kaltim, Persatuan Istri Karyawan (PIKA) Pupuk Kaltim serta pengurus Yayasan Pupuk Kaltim (YPK).
Kegiatan tersebut merupakan seminar kedua, usai sukses menggelar seminar pertama yang mengangkat tema “Disruption Era” session 1 pada Mei 2016 lalu, dengan pembicara yang sama: Rhenaldi Kasali.
Dalam sambutannya, Direktur Utama Pupuk Kaltim Bakir Pasaman menyimpulkan arti kata Disruption dan juga judul buku yang baru diterbitkan Rhenald.
“Disruption diartikan sebagai kemampuan untuk mewujudkan produk yang berkualitas. Untuk lebih jelasnya, rekan-rekan akan mendengarkan langsung dari Prof. Rhenald”, ungkap Bakir.
Sedangkan dalam tata bahasa, Disruption dapat diartikan gangguan. Jika dilihat dari segi industri Pupuk, disruption merupakan industri pupuk tanpa subsidi.
Dalam seminar tersebut, Rhenaldi memberikan gambaran menghadapi disruption sebagai fenomena global. Cara memenangkan tantangan serta persaingan dalam industri pupuk, ketika pupuk subsidi dihapuskan pemerintah.
Lebih lanjut ia menjelaskan, “Facing The Disruption Era” dengan memperbarui cara kerja, membuat bisnis model dan diversifikasi produk, dan merubah cara berpikir menjadi ‘global mindset’.
Pada akhir seminar Rhenald juga membangun mental dengan membuat analogi karyawan sebagai driver, dan passenger pada era gangguan.
Sebagai informasi, Rhenald sang pembicara juga merupakan penulis buku best seller di bidang manajemen, bisnis dan pemasaran. Selain itu tercatat sebagai pendiri Yayasan Rumah Perubahan Indonesia yang menjadi wadah kewirausahaan sosial untuk melatih anak muda menjadi riil entrepreneur yang beretika, Ketua Asosiasi Kewirausahaan Sosial Indonesia (AKSI) dan Ketua Technopreneur Club Indonesia (*)
Laporan : Humas Pupuk Kaltim
