Bontang. Ikatan Istri Pimpinan BUMN Kalimantan Timur dan Utara (IIP BUMN Kaltimra) wilayah C, bersama Persatuan Istri Karyawan Pupuk Kaltim (PIKA PKT) menggelar sosialisasi bahaya narkoba dan upaya pencegahannya. Diikuti seluruh anggota PIKA, dari seluruh gabungan wilayah. Sosialisasi berlangsung di Gedung Sekretariat PIKA. Rabu, 1 Agustus 2018.
Sosialisasi ini dinilai penting, mengingat para ibu rumah tangga selaku istri karyawan memiliki peran penting dalam pencegahan penyalahgunaan narkotika yang paling efektif, khususnya bagi anak. Mengingat narkoba sudah merasuk ke berbagai lingkungan, mulai besar hingga terkecil seperti halnya rumah tangga.
Wakil Ketua 1 PIKA Pupuk Kaltim Lola Karmila berharap, melalui seminar ini anggota PIKA memiliki wawasan lebih luas tentang bahaya narkoba, serta dampaknya bagi kehidupan. Serta dapat mengetahui cara pencegahan, disamping kasus hukum yang terjadi dari hal tersebut.
“Seminar ini juga diharap mampu memberikan feedback positif bagi ibu rumah tangga, untuk menjaga anggota keluarga khususnya anak. Mengingat ibu rumah tangga merupakan benteng utama dalam menyelamatkan generasi muda sejak usia dini,” ujar Lola.
Sosialisasi bahaya narkoba dan upaya pencegahannya ini menghadirkan 2 narasumber. Yakni Sofiansyah dari Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Bontang, serta Kepala Satuan Resnarkoba Polres Bontang AKP I Gusti Ngurah Suarka. Masing-masing menyampaikan materi tentang jenis dan dampak dari penggunaan narkoba, baik secara fisik maupun mental. Serta cara pencegahan sekaligus contoh kasus di mata hukum.
“Indonesia kini memasuki darurat narkoba, mengingat tingginya pengguna barang terlarang tersebut mencapai 4,2 juta penduduk. Atau 2 persen dari total jumlah penduduk Indonesia,” papar AKP Ngurah.
Dari total 2 persen tersebut, jumlah warga yang meninggal akibat narkoba setiap harinya kata AKP Ngurah, mencapai 33 hingga 50 jiwa, atau 18.250 jiwa per tahun. Dengan kerugian materil mencapai Rp 48 – 50 Triliun per tahun.
“Selain itu, narkoba juga menyebabkan 4,2 hingga 5 Juta remaja Indonesia menjadi lost generation dengan kondisi beragam. Yakni hidup tetapi tidak berguna, hidup tetapi tidak bisa bersaing, hingga hidup tetapi membuat masalah,” terangnya.(*)
Laporan: Sary | Ervi
