Bontang. Pendiri Inbis Permata Bunda (Inkubator Bisnis) Anggi V Goenadi menceritakan kisah awal berdirinya Inbis dan penduli terhadap kaum difabel. Mengalami permasalah pelik pada 2016 lalu, justru menjadi titik balik kebangkitannya dalam mengembangkan Kampung Aren yang ramah bagi golongan difabel serta dapat memberdayakan anak-anak difabel dalam membangun daerah.
Anggi menceritakan jika awal mula berdirinya Inbis pada tahun 2013 dipengaruhi dari kepeduliannya terhadap anak difabel yang membuat dirinya bersama istri memutuskan untuk membentuk usaha bisnis yang dapat menampung dan memberdayakan bagi anak difabel yang dirinya temui yang akan menjadi problem solving (pemecahan masalah) bagi anak – anak difabel dengan memutuskan untuk membuat usaha kecil yakni bidang interior.
Kemudian pada tahun 2016, Anggi merasa kegiatan usaha bersama anak – anak difabel ini terjadi stagnan dikarenakan permasalahan yang harus diselesaikan secara bersama yang membuat dirinya harus berpikir untuk kembali merencanakan program – program apa yang dapat dijalankan dari Inkubator bisnis tersebut.

Anggi mengungkapkan jika pada tahun 2016 saat itu, dirinya bersama istri terus mencari cara untuk tetap membuat Inbis tetap ada dan tetap bisa memberdayakan kaum difabel dengan cara mencari solusi yakni memutuskan untuk menjual berbagai aset yang dimiliki untuk keberlangsung menyelamatkan usaha Inbis, dimana dengan membuat program dan merencanakan hingga berkolaborasi dengan perusahaan yang sesuai dengan visi ikubantor bisnis yang melahirkan Sustainable Interpreunership Program for Disabilitas yang dapat menjadikan titik balik Inbis dalam bidang usaha.
“Program ini yang membuat Inbis memmiliki gairah baru dalam bisnis. Kalau dulu hanya punya usaha sekadar dagang, dan punya gaji. Setelah ada SIP ini lebih bisa dijaminkan substainable (berkelanjutan), ada fase-fase yang dilakukan di Inbis yakni before SIP”, ungkap Anggi.
Dari fase-fase yang dimaksud Anggi yaitu ada 4P untuk mencapai SIP itu yakni pelatihan, pemagangan, penempatan kerja dan pendampingan wirausaha. Dari program SIP yang dijalankan tersebut, Anggi menginginkan untuk nantinya anak – anak difabel ini bukan hanya dapat bekerja tetapi juga dapat menciptakan usaha mandiri serta dapat meberdayakan bagi sesame anak difabel di lingkungannya.Dari tahun 2016 itu, Anggi dapat memberikan kepercayaan kepada anak – anak difabel yang bersama dirinya untuk tetap bangkit bersama dan berkolaborasi bersama perusahaan.
“Mereka memiliki etos kerja yang sangat baik. Mereka punya totalitas, mereka punya kekuatan itu dari trus (kepercayaan). Ketika mereka diberikan kebepercayaan, mereka kembali memberikan kepercayaan. Pada 2016 itu, meyakinkan kembali pada mereka (anak difabel) tidak sulit. Sudah pada posisi siap dengan keadaan”, sebut Anggi.
Selain itu, Anggi menyebutkan jika salah satu inovasi Inbis yakni inovasi sosial dari Kampung Aren berdaya ramah disabilitas yang didukung oleh perusahaan yang dideklarasikan pada Agustus 2018. Dimana Inbis juga harus berkolaborasi dengan masyarakat sekitar dengan dimulai pada tahun 2017 dengan program ‘gerobak lingkar’ yaitu (gerakan rombak lingkungan Kampung Aren) yang dapat berdampak bagi masyarakat sekitar dari anak-anak difabel yang berada di Kampung Aren.
“Anak-anak mulai kerja bakti keliling kampung. Niatannya untuk menggerakkan warga. Kampung aren ini sudah eksis sejak lama dan unik. Disisi lain dulu masih terkesan kumuh. Masih banyak problem sosila disini”, terang Anggi.
Kampung Aren juga dijadikan sebagai salah satu bentuk contoh untuk melalukan terobosan dalam hal sosial, ekonomi dan lingkungan dengan tagline ‘Bangkitkan Negeri dari Kampung Sendiri. Dari Kampung Aren ini memiliki dampak yang sangat terasa yang turut memberdayakan lingkungan dari Inbis. Dimana masyarakat juga mendukung dengan adanya Kampung Aren.
“Dari kolaborasi antara Inbis dan Kampung Aren ini kita bisa mendapat prestasi yang luar biasa. Mendapatkan AREA Award 2020 tingkat Asia dari pola pengembangan kampung disini”, jelas Anggi.
Anggi juga berharap agar pemerintah untuk tetap terus mendukung lingkungan yang ramah disabilitas serta dapat memfasilitasi kaum difabel. Dimana hal paling mendasar bahwa anak – anak difabel juga menjadi bagian masyarakat yang perlu dirangkul dengan menyiapkan akses sebagai hak mereka dan dapat didukung serta dilibatkan dalam hal kebijakan terkait disabilitas.
Laporan: Yahya
