Bontang. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bontang, Nur Wahid, menekankan pentingnya hitungan kelayakan ekonomi yang matang dalam membangun sektor manufaktur di Kota Taman. Hal ini disampaikannya ketika menjawab pertanyaan salah satu peserta sosialisasi yang menyampaikan pernah ada wacana pembangunan industri lokal, seperti pabrik sepatu.
Dalam sesi diskusi Sosialisasi Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) di Media Centre Diskominfo Bontang, Rabu (15/4/2026), Nur Wahid mengingatkan bahwa mendirikan sebuah pabrik tidak hanya soal ketersediaan infrastruktur, tetapi juga kepastian skala pasar.
“Industri itu harus berkelanjutan. Kalau produksinya hanya untuk memenuhi kebutuhan sesekali, secara hitungan ekonomi tidak akan pas. Harganya akan sulit bersaing dengan produk dari luar,” tegas Nur Wahid di hadapan peserta sosialisasi.
Ia menjelaskan bahwa tanpa skala ekonomi yang memadai dan produksi yang berjalan terus-menerus, biaya operasional pabrik akan membengkak. Hal ini berisiko membuat harga produk lokal menjadi jauh lebih mahal dibandingkan produk serupa yang didatangkan dari pusat industri luar daerah.
Menurutnya, pembangunan industri di daerah harus disesuaikan dengan karakteristik wilayah dan kebutuhan pasar yang stabil. Jika sebuah industri manufaktur hanya mengandalkan pesanan periodik. Seperti pengadaan seragam atau sepatu sekolah tahunan, maka investasi tersebut sulit untuk mencapai titik impas (break even point).
Oleh karena itu, melalui momentum Sensus Ekonomi 2026 mendatang, BPS berharap dapat memetakan potensi usaha yang benar-benar layak dan berkelanjutan secara ekonomi. Data tersebut diharapkan menjadi panduan bagi pemerintah dan investor agar pembangunan industri di Bontang lebih efisien, tepat sasaran, dan memiliki daya saing yang kuat di pasar nasional.
“Jangan sampai kita membangun industri yang pada akhirnya tidak berjalan (on/off) karena faktor kontinuitas yang tidak terjaga,” pungkasnya.
