Bontang. Pemerintah Kota Bontang terus bergerak cepat menekan angka stunting melalui pendekatan perubahan perilaku masyarakat. Dalam pembukaan Orientasi Penguatan Komunikator Metode Komunikasi Antar Pribadi (KAP) di Ballroom Hotel Grand Equator, Rabu (3/6/2026) pagi, Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni menegaskan bahwa kunci utama keberhasilan penanganan stunting terletak pada pemenuhan gizi yang disiplin sejak awal kehidupan anak.
Secara khusus, Wali Kota menyoroti pentingnya perhatian total pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Periode emas yang dimulai sejak awal kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Periode ini dinilai sebagai masa paling krusial yang menentukan masa depan kesehatan dan tumbuh kembang anak.
Neni menjelaskan, intervensi dan kepedulian harus dimulai bahkan sebelum kehidupan baru itu lahir. Hal ini mencakup kepatuhan para remaja putri dalam mengonsumsi tablet tambah darah untuk mencegah anemia, serta kesiapan mental dan fisik para calon pengantin demi menjalani kehamilan yang sehat.
“Setelah bayi lahir, kedisiplinan seorang ibu juga sangat diuji. Mulai dari pemberian ASI eksklusif, memastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap, hingga ketelatenan dalam menyajikan MPASI yang bergizi seimbang,” ujar Neni di hadapan 71 tenaga kesehatan yang menjadi peserta orientasi.
Lebih lanjut, ia mengingatkan masyarakat agar tidak sekadar menggantungkan harapan pada bantuan fisik dari pemerintah. Menurutnya, program seperti pemberian makanan tambahan (PMT) maupun suplemen memiliki batasan waktu dan tidak bisa mengintervensi selamanya.
“Intervensi gizi dari pemerintah tidak akan pernah berjalan efektif tanpa adanya perubahan kebiasaan sehari-hari di tingkat keluarga. Keberlanjutan penanganan stunting ini sangat bergantung pada pola asuh orang tua dan kesadaran mandiri dari keluarga untuk menjaga gizi anaknya,” tegasnya.
Mengingat vitalnya pemenuhan gizi pada 1.000 HPK tersebut, Pemkot Bontang menilai metode Komunikasi Antar Pribadi (KAP) menjadi solusi taktis bagi para tenaga kesehatan di lapangan. Melalui pendekatan yang persuasif, humanis, dan partisipatif, nakes diharapkan mampu menyentuh hati orang tua dan mengubah perilaku mereka secara sukarela.
Meski intervensi Pemkot Bontang tercatat berhasil menurunkan prevalensi stunting hingga 17,44 persen pada tahun 2025, capaian tersebut dirasa belum cukup. Melalui penguatan edukasi di masa-masa emas 1.000 HPK ini, Wali Kota berharap ke depan pelatihan serupa bisa diperluas hingga ke kader posyandu di tingkat RT, menciptakan barisan komunikator yang kuat demi mewujudkan Bontang bebas stunting.
