Tenggarong. Salah satu ritual sakral yang menyita perhatian dalam rangkaian upacara adat Erau Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura adalah Belimbur Beras atau yang juga dikenal sebagai Betebak Beras. Tradisi yang dilaksanakan pada malam Bepelas ini menjadi simbol rasa syukur, keselamatan, serta eratnya kebersamaan antara pihak kesultanan dengan masyarakat luas.
Digelar secara turun-temurun di Tenggarong, Belimbur Beras merupakan ungkapan rasa syukur sultan kepada masyarakat atas limpahan rezeki dan kemakmuran yang diberikan.
Prosesi sakral ini biasanya diawali dengan pementasan Tari Kanjar yang diikuti oleh kerabat kesultanan serta para pejabat daerah. Suasana kemudian berubah menjadi semakin meriah ketika Sultan, kerabat kesultanan, tamu undangan, dan masyarakat yang hadir saling menaburkan serta melemparkan beras dalam kegembiraan bersama.
Menariknya, beras yang telah ditaburkan tersebut kemudian dikumpulkan kembali oleh warga yang hadir. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, beras tersebut diyakini membawa berkah dan keselamatan bagi yang menyimpannya.
Di balik kemeriahannya, ritual Belimbur Beras memiliki makna filosofis yang mendalam. Beras diposisikan sebagai simbol kesuburan, kelimpahan pangan, serta anugerah dari Sang Pencipta. Selain itu, tradisi ini juga menjadi momen penting untuk mempererat silaturahmi tanpa sekat antara kesultanan, pejabat, tamu, dan rakyat.
Pelaksanaan Belimbur Beras sekaligus menjadi bagian penting dalam upaya pelestarian budaya Kutai. Tradisi luhur yang terus dijaga ini diharapkan menjadi pengingat bagi generasi muda untuk senantiasa mengenal dan melestarikan warisan leluhur mereka.



