Bontang. Dampak pandemi COVID-19 (Virus Corona) sangat dirasakan berbagai lapisan masyarakat di Kota Taman, termasuk oleh Yanti yang sehari-hari mencari nafkah melalui usaha menjahit. Dirinya merasa, tahun inilah momen di mana menjelang lebaran orderan yang didapatkannya sangat sepi.
Yanti mengatakan biasanya menjelang lebaran merupakan saat yang menyenangkan bagi penjahit. Karena akan kebanjiran order untuk keperluan lebaran, dari kebaya, baju koko, celana, sampai gamis. Bahkan sangking ramainya, banyak order yang terpaksa ditolak, takut tidak bisa selesai pada waktunya.
Biasanya hasil yang diperoleh dari menjahit baju jelang lebaran bisa dibilang lumayan, untuk membantu suami, serta biaya sekolah anak-anak dan kebutuhan yang lainnya. Tetapi untuk tahun ini dirinya menceretikan bahwa orderan yang dirinya dapatkan tidak seramai dulu.
“Kalo di tahun-tahun sebelumnya yang tanpa ada Corona, awal-awal puasa gini biasanya sudah ramai orderan yg masuk bikin baju buat merayakan lebaran, yang ramai di order biasanya couplean sekeluarg. tapi puasa tahun ini benar-benar terasa dampak dari COVID-19 yang menggangu kestabilan ekonomi rumah tangga. Sampe sekang ini belum ada orderan jahit untuk lebaran.” Ungkapnya.
Yanti menambahkan, bisa jadi akibat wabah Virus Corona dan segala aturan pemerintah seperti sosial distancing yang diterapkan pemerintah membuat masyarakat kurang berminat menjahit baju di lebaran tahun ini.
“Sepertinya mereka mengikuti anjuran pemerintah yang melarang keluar rumah masyarakat dan silaturahmi ke rumah orang saat nanti lebaran. Mungkin saja mereka berpikir buat apa pake baju baru kan ya, atau bisa jadi menghemat buat belanja harian,” tambahnya.
Tidak hanya orderan jahitan baju lebaran yang mengalami penyusutan saat ini.Tetapi vermak jeans juga mulai kurang semenjak adanya pandemi Virus Corona.
“Mendekati lebaran seperti ini biasanya orang juga mulai ramai vermak jeans atau baju.Kebanyakan orang-orang yang membeli beli baju yang kebesaran atau celana kepanjangan. Tetapi sekarang hanya satu dua aj yg masuk untuk vermak. Jelas tak seramai sebelum Virus Corona,” terangya.
Laporan: Hesti
