Tenggarong. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Kartanegara terus menunjukkan komitmennya dalam melestarikan bahasa daerah melalui jalur pendidikan formal. Komitmen ini diwujudkan melalui penyelenggaraan Workshop Penyusunan Modul Pembelajaran Bahasa Daerah bagi Guru Sekolah Dasar Tahun 2025.
Workshop yang dilaksanakan di salah satu hotel di Tenggarong ini menjadi langkah konkret Disdikbud Kukar dalam menghadirkan modul pembelajaran Bahasa Kutai yang terstruktur dan sesuai dengan standar pendidikan. Modul yang disusun selama kegiatan ini akan mendapatkan pendampingan lebih lanjut dari narasumber Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur agar dapat dikembangkan menjadi bahan ajar utuh yang aplikatif di sekolah dasar.
Salah satu peserta workshop, Nadifa Nurfadila Adisti Putri, guru SDN 009 Tenggarong, mengungkapkan bahwa penyusunan modul ini bukan hal yang mudah.
“Tantangan terbesar menurut saya adalah memilih diksi yang tepat dan menyusun struktur penulisan yang mudah dipahami oleh siswa. Karena ini menyangkut bahasa daerah, kami harus benar-benar hati-hati dalam setiap istilah yang digunakan,” jelasnya.
Sementara itu, Syara Ulan, guru SDN 002 Loa Kulu, mengaku mendapatkan banyak wawasan baru dari workshop ini.
“Saya merasa sangat terbantu dengan adanya workshop ini, terutama dalam hal teknik penyusunan modul yang terstandar. Ilmu yang kami dapatkan sangat aplikatif dan bisa langsung diterapkan,” ujarnya.
Meskipun menghadapi sejumlah tantangan dalam proses penyusunan, para peserta tetap menunjukkan antusiasme tinggi. Mereka menganggap workshop ini sebagai momen penting untuk meningkatkan kompetensi dalam mengajar, khususnya dalam penguatan muatan lokal.
Sebanyak 50 guru SD dari 18 kecamatan di Kutai Kartanegara turut ambil bagian dalam kegiatan ini. Fokus utama workshop adalah menyusun draft modul Bahasa Kutai yang nantinya akan diintegrasikan ke dalam kurikulum muatan lokal di tingkat sekolah dasar.
Melalui inisiatif ini, Disdikbud Kukar berharap Bahasa Kutai tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat sebagai bagian dari identitas budaya lokal. Workshop ini juga dipandang sebagai langkah strategis dalam pelestarian budaya daerah melalui pendidikan yang terstruktur, berkelanjutan, dan relevan dengan perkembangan zaman.



