Bontang. Hari di mana kita diingatkan kembali bahwa sastra bukan sekadar rangkaian kata indah untuk menghias halaman buku. Ia lebih dari itu. Bagi saya, sastra sama persis dengan secangkir kopi hitam pahit: tampil sederhana, tanpa gula, namun menyimpan rasa yang meresap hingga ke relung hati yang paling dalam.
Sastra tidak selalu manis. Ia sering kali getir, tajam, dan menyentuh luka yang selama ini coba kita sembunyikan. Ia berani berbicara tentang kehilangan, tentang ketidakadilan, tentang perjalanan panjang yang melelahkan, dan tentang kenyataan yang sering kali jauh dari harapan. Seperti kopi yang pahit di awal tegukan, sastra mengajarkan kita untuk tidak lari dari kenyataan, melainkan meminumnya hingga tetes terakhir agar kita paham betapa kuatnya hidup ini.
Ada orang yang menulis untuk melupakan. Ada pula yang menulis agar tidak dilupakan. Namun, bagi penulis yang jujur, menulis adalah menyeduh pengalaman sendiri. Semakin pekat dan pahit kisahnya, semakin dalam kesadaran yang lahir dari sebuah tulisan. Kata-kata hanyalah ampas yang tertinggal, namun maknanya adalah rasa yang menyelinap pelan. Ia tidak perlu dihias berlebihan untuk menyadarkan hati yang sedang tertidur.
Di kota Bontang ini, di tengah deru industri dan kesibukan sehari-hari, sastra hadir sebagai ruang sunyi. Di sini kita bisa merenung seperti para leluhur kita yang meninggalkan jejak lewat cerita lisan, mengukir sejarah bukan hanya di batu nisan, tapi dalam ingatan anak cucu. Sastra adalah cara kita mencatat waktu, agar kelak ketika kita tiada, cerita tentang keberanian, pengorbanan, dan harapan tetap hidup di antara halaman-halaman yang terbaca.
Maka, pada Hari Sastra ini, mari kita berhenti sejenak. Ambil secangkir kopi hitam, dan nikmati rasa pahitnya. Pahami bahwa di balik rasa itu ada kekuatan yang membangunkan kesadaran. Begitu juga dengan tulisan-tulisan kita: biarkan ia jujur, biarkan ia apa adanya, meski kadang getir di lidah. Karena pada akhirnya, sastra yang sejati adalah sastra yang mampu membangunkan hati nurani, bukan yang membiusnya dengan kemanisan semu.
Selamat Hari Sastra Nasional. Teruslah menulis, teruslah menyeduh rasa, dan biarkan kata-kata menjadi saksi perjalanan hidup yang sesungguhnya.
