Uncategorized  

Kali Pertama, Bontang Gagal Raih Adipura

Bontang. Piala Adipura untuk ke sepuluh kalinya bagi Kota Bontang gagal diboyong pada tahun 2017 ini, lantaran kurang maksimalnya pengelolaan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dengan sistem Sanitary Landfill.

Hal tersebut diungkapkan Walikota Neni Moerniaeni, yang mengatakan seharusnya sanitary landfill yang diterapkan TPA Bontang Lestari seharusnya ditutup menggunakan top soil. Terdiri dari media berpori, seperti kerikil, geonet atau geokomposit.

“Akan tetapi karena tidak adanya anggaran pemerintah daerah, top soil terpaksa tidak bisa dilakukan. Poin inilah yang membuat nilai kita berkurang,” ujar Neni.

Namun begitu, untuk kategori lain seperti penghijauan dan kebersihan, Bontang kata Walikota masih mampu mengungguli daerah lainnya. Neni pun menegaskan, meski gagal meraih Adipura tahun 2017, Pemerintah tidak akan berhenti untuk terus membenahi sistem kebersihan lingkungan Bontang kedepannya.

“Pemerintah akan tetap berupaya maksimal untuk pembenahan kebersihan lingkungan dan penghijauan di Bontang,” tambahnya.

Diketahui, metode pengelolaan sampah menggunakan sistem sanitary landfill yang menjadi penilaian Adipura 2017, sudah diterapkan di TPA Bontang Lestari sejak 2015 lalu.

Melalui konsep ini, sampah tidak lagi ditumpuk namun langsung ditimbun. Agar sampah tidak sampai mengalami pembusukan secara terbuka, dan tidak menimbulkan bau.

Keunggulan Sanitary Landfill lainnya, dari sisa pembusukan terdapat air lindi yang diproses melalui ipal, yang kemudian berfungsi untuk menetralisir racun. Sehingga aman saat mengalir ke lingkungan masyarakat. Disamping gas metan yang dihasilkan timbunan sampah dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan memasak.(*)

 

Laporan: Yuli & Nasrul