Uncategorized  

Komite dan PP Hastma SMTI Yogyakarta Kunjungi Pupuk Kaltim

Bontang. Senin (4/2/2019), PT Pupuk Kalimantan Timur menerima kunjungan kerja dari Komite dan PP Hastma SMK Teknologi Industri (SMTI) Yogyakarta. Kunjungan kerja ini diterima langsung Perwakilan Manajemen Perusahaan General Manager Operasi 2 Mochamad Safiie di Ruang Meranti Kantor Pusat Pupuk Kaltim.

General Manager Operasi 2 Mochamad Safiie menjelaskan bahwa Pupuk Kaltim adalah pabrik pupuk terbesar di Indonesia yang memiliki tanggung jawab untuk memenuhi pengadaan dan pendistribusian pupuk urea bersubsidi yang meliputi wilayah pemasaran hampir 2/3 wilayah Indonesia, diantaranya adalah sebagian besar Jawa Timur dan Wilayah Indonesia Timur Lainnya.

“Pupuk kaltim senantiasa berkomitmen dalam mendukung program ketahanan pangan nasional, selain mengamankan pasokan pupuk dalam negeri, Pupuk Kaltim juga mengekspor sebagian produksinya ke Luar Negeri,” terangnya.

Saat ini tidak hanya dunia ekonomi saja, namun dunia pendidikan juga cepat atau lambat akan merasakan dampak dari Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). oleh karenanya, untuk dapat mengikuti kompetisi yang semakin ketat dalam berbagai bidang, diperlukan adanya bekal khusus untuk dapat bersaing, tidak hanya dibidang akademik namun juga non akademik.

“Untuk itu Pupuk Kaltim membuka informasi selebar – lebarnya terhadap Komite dan PP Hastma Smk Teknologi Industri (SMTI) Yogyakarta untuk menggali informasi seputar pengelolaan SDM dan informasi penerimaan tenaga kerja di Pupuk Kaltim, tambah Safiie.

Sementara, ketua rombongan Komite dan PP Hastma Smk Teknologi Industri (SMTI) Yogyakarta Langgeng Sulistiyono, menyampaikan ucapan terimakasih kepada manajemen perusahaan karena telah menerima rombongan mereka dengan sangat baik, dalam rangka menjalin kerja sama dan menggali informasi seputar sistem rekrutmen di PT Pupuk Kaltim.

“Kunjungan ini juga berkaitan dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementrian Perindustrian RI terkait penyerapan tenaga kerja di perusahaan yang membidangi industri di sektor non migas atau manufaktur dalam negeri, sehingga perlu adanya peningkatan peran perusahaan, dengan mengedepankan kualitas sumber daya manusia yang selama ini dinilai tidak sesuai dengan kebutuhan industri,” ujarnya. (*) 

 

Laporan : Aris

Exit mobile version