Bontang. Usulan kenaikan tarif yang diajukan PDAM Tirta Taman Bontang masih terus bergulir. Dimana harga harga jual air bersih yang dipatok Pdam saat ini merupakan harga terendah di Kalimantan Timur, dengan harga produksi yang jauh diatas harga jual.
Alhasil, kondisi tersebut menjadikan perusahaan plat merah ini terus mengalami kerugian setiap tahunnya, lantaran menutupi kekurangan biaya produksi yang tak sebanding dengan harga jual.
Walikota Bontang Neni Moerniaeni pun mengakui jika tarif dasar air bersih di kota Bontang paling rendah di Kalimantan Timur, yakni Rp 3.155 per kubik. Sedang daerah lain telah mencapai angka Rp 8.000 hingga Rp 13.000 per kubik.
Mengacu pada hal tersebut, Neni pun akan menyetujui usulan kenaikan tariff PDAM, dengan syarat harus dibarengi peningkatan kualitas yang maksimal.
“Saya rasa masyarakat Bontang tidak keberatan jika tarif dasar air dinaikkan, asal air yang mereka terima bersih dan tidak keruh, apalagi kalau itu mengalir setiap hari,” ujarnya.
Senada, Wakil Walikota Basri Rase pun menilai kenaikan tarif PDAM memang sudah seharusnya dilakukan. Asal sejalan dengan kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat Bontang.
“Asal kualitas dan pelayanan yang diberikan sesuai, saya rasa bukan masalah jika tariff Pdam dinaikkan,” paparnya.
Berdasar data dari tahun 2012 hingga 2015, Pdam Tirta Taman terus mengalami kerugian mencapai Rp 1 Miliar per Tahun. Tercatat tahun 2012, Pdam merugi senilai Rp 5,7 Miliar, berkisar Rp 2.251 per kubik, dengan harga jual Rp 2.711, sementara biaya produksi mencapai Rp 4.962 per Kubik.
Pada tahun 2013 Pdam merugi sekira Rp 6,4 Miliar, atau Rp 1.920 per kubik. Dimana harga jual Rp 2.834, sementara biaya produksi mencapai Rp 4.754 per kubik.
Meski mengalami sedikit penurunan pada tahun 2014, namun kerugian kembali terjadi tahun 2015 yang mencapai Rp 7,5 Miliar, dengan tanggungan sebesar Rp 1.763 per kubik. Dimana harga jual Rp. 3.155 per kubik, masih berada dibawah biaya produksi yang mencapai Rp 4.918 per kubik.(*)
Laporan : Sary & Aris
