Bontang. Puluhan massa pendukung salah satu pasangan calon (paslon) Pilgub Kaltim melakukan unjuk rasa ke kantor KPU Bontang, yang dijaga ketat Kepolisian. Unjuk rasa tersebut berujung kerusuhan, pasca bentrok dengan anggota Polisi.
Bukan hanya saling lempar benda keras, aksi tersebut juga diwarnai saling dorong antara petugas keamanan dengan massa yang memaksa masuk ke area kantor KPU.
Merasa kewalahan, petugas akhirnya menurunkan tim anti huru-hara untuk membubarkan massa, dengan kedatangan Brimob berpakaian lengkap. Kondisi ini justru membuat massa semakin beringas, dan saling lempar kembali tak dapat terhindarkan.
Kepolisian pun akhirnya memutuskan mendorong dan membubarkan massa dengan water cannon, serta tembakan peringatan. Termasuk meminta bantua TNI, karena kondisi yang semakin tak terkendali.
Itulah skenario dan simulasi yang dilakukan Kepolisian Resor Bontang, rangkaian apel gelar pasukan dalam rangka operasi kewilayahan Mantap Praja 2018 yang dilaksanakan di lapangan Bessai Berinta, Selasa (20/2) pagi.
Simulasi menceritakan bentrok terjadi akibat salah satu pendukung paslon menganggap ada kecurangan saat penyelenggaraan Pilgub Kaltim, sehingga pasangan yang mereka dukung kalah.
“Simulasi ini dilakukan sebagai wujud antisipasi potensi kerawanan, yang mungkin saja terjadi jelang pilgub Juni 2018 mendatang,” kata Kapolres Bontang AKBP Dedi Agustono.
Simulasi sekaligus penanda dimulainya Operasi Mantap Praja ini melibatkan sekitar 700 personil gabungan Polri, TNI, Satpol PP, Linmas/damkar, dan pihak terkait lainnya.
Simulasi turut disaksikan Wakil Walikota Bontang basri rase, KPU dan Panwaslu Bontang, serta perwakilan tim pemenangan pasangan calon.
Kegiatan tersebut dirangkai penandatanganan deklarasi damai, oleh Pemerintah melalui Wakil Walikota, bersama Dandim 0908 Bontang, Kapolres, KPU, Panwaslu, serta dan tim pemenangan paslon.(*)
Laporan: Yulianti Basri
