Bontang. Pemerintah Kota Bontang menargetkan penurunan angka stunting dari 15,7 persen menjadi 12,5 persen pada tahun 2026. Target tersebut disampaikan langsung Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, dalam Rapat Koordinasi Konvergensi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting (P3S).
Rapat tersebut digelar oleh Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bapperida) di Auditorium 3D, Selasa (23/12/2025) pagi, dan dihadiri berbagai pemangku kepentingan lintas sektor.
Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, mengatakan keberhasilan penurunan stunting sangat bergantung pada akurasi data hingga tingkat paling bawah. Dijelaskannya, data yang akurat dan terperinci sampai tingkat kelurahan dan rukun tetangga menjadi kunci utama keberhasilan penanganan stunting di Kota Bontang.
“Hasil Gerakan Serentak Timbang Bayi yang dilaksanakan setiap bulan Mei dan November akan dijadikan dasar evaluasi sekaligus perencanaan program penurunan stunting tahun 2026. Data dari timbangan serentak bayi ini akan menjadi acuan kita dalam menyusun kebijakan dan program yang tepat sasaran,” terangnya.
Agus Haris juga mengungkapkan, saat ini angka stunting di Kota Bontang berada di kisaran 15 persen, yang dinilai sudah melampaui target nasional sebesar 18 persen pada tahun 2030. Meski demikian, ia mengingatkan seluruh pihak agar tidak cepat berpuas diri.
“Capaian ini patut kita syukuri, tetapi jangan membuat kita lengah. Karena Bontang masih berada di peringkat ketiga angka stunting tertinggi di Kalimantan Timur,” tegasnya.
Ia pun mengajak seluruh elemen, mulai dari perangkat daerah, pemerintah kecamatan dan kelurahan, tokoh agama, organisasi masyarakat, hingga perusahaan yang beroperasi di Kota Bontang untuk berkolaborasi memperkuat intervensi di lapangan.
Rapat koordinasi tersebut dihadiri jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, para camat dan lurah, tokoh agama, organisasi masyarakat, serta perwakilan perusahaan, sebagai upaya memperkuat sinergi percepatan penurunan stunting di Kota Bontang.



