Samarinda. Puluhan warga dari Jalan Kakap, Kelurahan Sungai Dama, Kecamatan Samarinda Ilir, menggeruduk area proyek pembangunan Terowongan Sultan Alimuddin, atau yang lebih dikenal sebagai Terowongan Samarinda. Aksi ini dipicu oleh kekhawatiran warga atas dampak pekerjaan proyek yang dilakukan pada malam hari, yang menyebabkan getaran hebat hingga merusak sejumlah rumah warga di sekitar lokasi.
Aksi protes yang berlangsung pada Kamis malam tersebut, menjadi luapan kekecewaan warga yang merasa tak kunjung mendapat perhatian dari pihak pemerintah. Risma Salah satu warga mengaku, rumah mereka mengalami keretakan hingga penurunan tanah setelah adanya aktivitas pembangunan terowongan.
“Rumah saya retak di sepuluh titik, Tanahnya juga turun. Kami merasa tidak aman berada di rumah kami ini ” ujar Risma, kepada wartawan PKTV.
Ia menambahkan bahwa proyek ini seharusnya mempertimbangkan keselamatan dan kenyamanan warga sekitar. Pasalnya ia mengaku telah melaporkan situasi kepada pemerintah namun belum ada tindakan yang dilakukan.
“Sebelumnya kami sudah melakukan beberapa kali pelaporan kepada pemerintah dan sudah ada tinjauan, namun hingga saat ini belum ada tindakan”. Jelas Risma
Risma dan sejumlah warga yang terdampak berharap pemerintah tidak tinggal diam, dan segera memberikan solusi termasuk kompensasi bagi masyarakat yang terdampak.
Menanggapi situasi yang memanas, aparat kepolisian dikerahkan untuk mengamankan lokasi dan menjaga agar aksi protes berlangsung aman. Pemerintah Kota Samarinda juga turut hadir di lokasi, termasuk pejabat dari kecamatan hingga perwakilan proyek, untuk menenangkan warga dan mendengar langsung keluhan mereka.
Camat Samarinda Ilir, La Uje, yang berada di tengah-tengah warga mengatakan, pihaknya akan segera melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kota Samarinda. Ia berjanji akan membawa permasalahan ini langsung ke Wali Kota agar segera diambil langkah konkret untuk menyelesaikan keluhan warga.
“Kami tidak ingin permasalahan ini berlarut. Ini soal kenyamanan dan keamanan masyarakat. Saya akan sampaikan langsung ke pak Wali Kota besok pada saat Rapat Kordinasi”. tegas La Uje.
Sementara itu, dari pihak pelaksana proyek, Billy selaku Project Manager menjelaskan bahwa kegiatan yang menimbulkan getaran tersebut merupakan bagian dari proses pengujian fondasi. Menurutnya, pengujian ini merupakan tahapan teknis yang umum dilakukan untuk memastikan kekuatan struktur tanah sebelum pembangunan lanjutan dilakukan.
“Kegiatan hari ini merupakan tes yang lazim di gunakan untuk menguji kekuatan bangunan.
Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang di rasakan warga. Pengujian ini memang penting, tapi kami pastikan ini adalah tahap terakhir dari proses serupa,” ungkap Billy.
Aksi protes ini menjadi peringatan keras bahwa pembangunan infrastruktur besar harus dibarengi dengan sensitivitas terhadap kondisi sosial masyarakat sekitar. Warga berharap pemerintah daerah, baik kota maupun provinsi, segera turun tangan agar kejadian serupa tidak terulang kembali.



