Samarinda. Kondisi ekosistem mangrove di Kalimantan Timur kini berada dalam situasi memprihatinkan. Jika pada tahun 1970–1980 luasannya mencapai sekitar 950.000 hektare, kini tersisa hanya sekitar 240.000 hektare.
Menyikapi hal tersebut, Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji, menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dan lintas wilayah dalam upaya perlindungan serta pengelolaan ekosistem mangrove. Hal ini disampaikan pada kegiatan peringatan Hari Mangrove Sedunia sekaligus penguatan Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD) yang berlangsung di Pendopo Odah Etam, Samarinda.
Menurut Seno Aji, pembentukan KKMD telah didasari oleh Keputusan Gubernur Kalimantan Timur sebagai wujud komitmen daerah dalam mengimplementasikan kebijakan nasional mengenai pengelolaan ekosistem pesisir berkelanjutan. KKMD memiliki tugas utama melaksanakan monitoring dan evaluasi pengelolaan mangrove, memfasilitasi penyelesaian permasalahan di lapangan, hingga mendorong penguatan data dasar serta pemetaan wilayah kritis maupun potensial di Kalimantan Timur.
Selain itu, Seno juga menyoroti pentingnya rehabilitasi dan restorasi mangrove, khususnya di kawasan Delta Mahakam, Kabupaten Kutai Kartanegara. Program ini dinilai bukan hanya untuk memulihkan ekosistem pesisir, tetapi juga memberi dampak positif bagi pemberdayaan masyarakat lokal.
Program restorasi Delta Mahakam sendiri telah berjalan sejak 2022. Pada fase pertama tahun itu, dilakukan penanaman 700.000 bibit mangrove di area seluas 52,3 hektare. Sementara pada fase terakhir tahun 2024, ditargetkan rehabilitasi seluas 37,2 hektare dengan 372.000 bibit mangrove.
“Upaya ini perlu dioptimalkan agar keberlanjutan ekosistem mangrove di Kalimantan Timur dapat terjaga sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat,” tegas Seno Aji.



