Sempat Tegang, Kongres XXXIX GMKI di Kota Samarinda masih berjalan dengan kondusif

Samarinda. Kongres Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) ke-39 telah memasuki hari ketiganya di Gedung Plenary Hall Sempaja, Samarinda pada Selasa (20/05/2025). Kegiatan ini dihadiri oleh 500 peserta perwakilan dari 120 cabang GMKI dan berbagai tokoh penting, termasuk Kapolri, Menteri ESDM,Menpora RI, Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltim.

Ketua Harian Panitia Kongres GMKI, yang juga menjabat sebagai Ketua Federasi Advokat Indonesia (FERARI) Wilayah Kalimantan Timur, Paulinus Dugis, pada sesi konferensi pers, menyampaikan apresiasinya terhadap seluruh pejabat Tinggi Negara yang sudah terlibat dalam kongres.

“Kami sampaikan ucapan dan apresiasi kami kepada Seluruh Pihak Keamanan dan Petinggi Negara yang telah membantu dalam pelaksanaan Kongres GMKI hingga hari ini”. Ujar Paulinus Dugis

Terkait dengan sebuah video ricuh yang terjadi dalam pelaksanaan kongres GMKI, senin malam (19/05/2025). Ketua Harian Panitia GMKI, Paulinus Dugis menegaskan hal tersebut merupakan dinamika dalam berorganisasi.

“Terkait dengan situasi Keos yang sempat terjadi , itu merupakan hal yang biasa dalam berorganisasi dan biasa terjadi dalam pelaksanaan Kongres dimana saja”. Tagasnya

Paulinus juga menegaskan, bahwa dinamika yang terjadi dalam kongres ini merupakan hal yang wajar dalam forum demokratis. “Setiap peserta memiliki hak menyampaikan pendapat, semua demi tujuan bersama memajukan GMKI ke depan.”

Wakil Ketua Harian GMKI, Saifuani Nyuk, menambahkan bahwa kongres ini merupakan momen penting bagi seluruh kader GMKI di Indonesia.

“Kami memastikan kongres berjalan lancar dan semua dinamika diselesaikan secara internal. Panitia netral dan tidak memihak kandidat manapun.” Ucap Saifuani

Kongres GMKI ke-39 diharapkan dapat menentukan masa depan organisasi dan memperkuat peran GMKI dalam membangun bangsa dan negara. Dengan semangat demokrasi dan kekristenan, kongres ini diharapkan dapat menghasilkan keputusan yang tepat dan memuaskan bagi semua pihak yang terlibat.

 

Writer: Hendrikus Gantur