Bontang. Dunia pendidikan kita saat ini digegerkan dengan pendemi COVID-19, dimana dengan adanya pembatasan interaksi, Kementerian Pendidikan di Indonesia juga mengeluarkan kebijakan yaitu dengan meliburkan sekolah dan mengganti proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dengan menggunakan sistem dalam jaringan (daring) atau pembelajaran secara online.
Untuk itu Tim Liputan PKTV menghubungi beberapa pihak yang berkompetensi untuk memberikan tanggapan mereka tentang sistem pendidikan disaat pandemi Virus Corona dan prediksi pendidikan masa depan pasca pandemi.
Diantaranya adalah Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Bontang Dasuki, Guru SMP Negri 7 Bontang Rakhman Halim, Guru Seni Budaya SMA Vidatra Untung Erha, dan Guru Seni Budaya SMAN 2 Bontang Dian Wulandari.

Ketua PGRI Bontang Dasuki dalam penyampaiannya menjelaskan bahwa ada hikmah yang dapat diambil oleh dunia pendidikan pada saat pandemi COVID-19 ini, dimana dengan adanya kebijakan social distancing maka sistem pembelajaran online mejadi alternatifnya. Sistem pembelajaran online ini kedepannya bisa terus diterapkan, sehingga para pendidik tidak hanya mengajar anak didiknya dengan melakukan pertemuan di kelas tetapi juga secara online.
Kedepannya sistem pembelajaran secara online harus dipersiapkan secara matang sehingga yang disajikan kepada anak didik menjadi menarik. Hal tersebut mutlak memerlukan dukungan dari berbagai pihak terutama untuk pembangunan infrastrukturnya, sehingga di masa depan pendidikan melalui online dan pertemuan di kelas bisa dikombinasikan.
“Mudah-mudahan ada berkah bagi dunia pendidikan dengan adanya sistem pembelajaran online ini, dan bagi guru-guru mari kita bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan ini sehingga dapat menahlukan tantangan zaman yang ada. Semoga pendidikan di Kota Bontang semakin maju,” harapnya.

Sementara itu Guru SMP Negri 7 Bontang Rakhman Halim, mengatakan dengan munculnya pandemi COVID-19, tentunya berdampak langsung terhadap pelaksanaan KBM, yang tadinya bisa bertatap muka di sekolah saat ini mau tidak mau harus dilaksanakan dengan pembelajaran Jarak Jauh (online).
Kondisi seperti ini pastinya mengharuskan para guru segera beradaptasi menyesuaikan keadaan dan harus melek IT dan secara mental siap mengalami perubahan, mungkin yang sifatnya sementara (selama wabah berlangsung) atau bersifat berkelanjutan menjadi sebuah pola baru dalam dunia pendidikan yang memang serba digital. Hal tersebut tentunya membawa dampak positif bagi literacy komputer khususnya bagi guru di Indonesia, meski pada kenyataannya di lapangan masih dalam prosentase yang relatif belum 100% aplikasi IT dapat terlaksana. Masih terdapat kendala terkait pelaksanaan pembelajaran online, kesiapan guru, siswa dan infrastruktur.
Apalagi di masa pandemi COVID-19 outbreak ini kondisi ekonomi juga berdampak sangat signifikan. Tidak semua siswa memiliki gadget yang bisa digunakan untuk pembelajaran online, belum lagi koneksi internet (biaya paket data) pastinya cukup memberatkan bagi orang tua. Di atas semua itu sebagai insan pendidikan, kita harus selalu yakin ini semua adalah tantangan sekaligus ‘kesempatan’ untuk kita beranjak dari zona nyaman. Bukankah di balik kesulitan Allah berikan kemudahan.
“Dalam hal ini kita yakin bersama kita mampu melewati ini semua. Ke depannya setelah wabah COVID-19 ini reda, wajah pendidikan Indonesia semakin lebih baik, lebih siap lebih matang dan tangguh. Beban ini bukan hanya milik sekolah, para guru, tenaga kependidikan, orang tua namun semua pihak baik pemerintah dalam hal ini dinas pendidikan dan kebudayaan, kemenag dan seluruh stakeholder yang peduli dengan pendidikan,” ungkapnya.

Guru Seni Budaya SMA Vidatra Untung Erha, melihat pembelajaran online dari rumah sebagai hal yang positif, dimana untuk pendidikan online di sekolahnya termasuk lancar tanpa kendala. Anak didiknya sangat responsif, dimana pukul 07.00 WITA sudah siap untuk menerima materi. Tetapi dengan sistem belajar online ini maka jam pembelajaran menjadi membengkak, dimana biasnya 1 jam maple harusnya 40 menit, sekarang menjadi 2 kali lipatnya.
“Kayak saya ini kan ngajar psikomotorik (praktek). Kadang sampai malem anak-anak masih ada yang konsultasi teknis. Yaaa, tapi asyik saja. Saya suka, karena anak-anak jadi tidak canggung komunikasinya alias ada proses dialog yang sehat dan efisien,” jelasnya.

Hal yang sama disampaikan oleh Guru Seni Budaya SMAN 2 Bontang Dian Wulandari, dirinya melihat ada berbagai hal positif yang didapatkan dari belajar online dari rumah yang diantaranya adalah anak jadi lebih bisa mengenal dan memanfaatkan teknologi, banyak pembelajaran yang baru bisa di pelajari, dan anak lebih mandiri di dalam proses belajarnya.
Tetapi selain hal positif, dirinya juga memberikan gambaran hal negatif apa yang dapat terjadi dengan sistem belajar online, diantaranya adalah kendala pada masing-masing individu siswa yang tidak punya fasilitas, guru hanya bisa memberikan pembelajaran edukatif, sementara pendidikan karakter terabaikan, serta guru dan siswa bisa semakin acuh karena tidak adanya interaksi langsung.
“Menurut saya apabila hal ini terus berlangsung maka ke depannya akan sulit mengembalikan pembentukan karakter siswa menjadi jiwa yang sosial,” pungkasnya.
Laporan: Tim Liputan PKTV
