Bontang. Diputuskannya penundaan kenaikan tarif air PDAM Tirta Taman hingga setelah lebaran Idul Fitri 1438 H mendatang, yang disepakati Pemerintah, Dprd, bersama Aliansi Masyarakat Bontang Menggugat (AMBM), mendapatkan penolakan keras dari gabungan Mahasiswa Bontang yang menamakan diri Mahasiswa Peduli Rakyat (MPR), dengan menggelar aksi di simpang 4 Ramayana Bontang, 15 mei 2017.
Belasan mahasiswa yang terdiri dari Forum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Kota Bontang, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Himpunan Mahasiswa Bontang (HMB), dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Bontang ini, turun menyuarakan tuntutan pemerintah untuk dapat membatalkan kenaikan tarif air dari perusahaan plat merah tersebut. Bukan menunda kenaikan seperti yang disepakati sebelumnya, dengan kenaikan berkala sebesar 20 hingga 50 persen.
Dalam aksinya, Mahasiswa Peduli Rakyat turut menggalang tanda tangan para pengendara yang melintas, maupun masyarakat disekitar lokasi. Sebagai bentuk dukungan penolakan terhadap kenaikan tarif air PDAM Bontang.
“Aksi kali ini sebagai lanjutan aksi sebelumnya di PDAM. Penggalangan tanda tangan juga bentuk penolakan masyarakat atas kebijakan naiknya tarif PDAM, yang akan kami sampaikan ke DPRD untuk ditindaklanjuti,” papar Koordinator Aksi, Sadly Jaya.
Dikatakannya, jika tuntutan ini tidak diakomodir oleh pengambil kebijakan dalam hal ini Pemerintah Kota, mahasiswa yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Rakyat ini menyatakan untuk kembali turun menggelar aksi lanjutan.
“kami minta hal ini dapat menjadi perhatian serius Pemerintah dan DPRD Kota Bontang,” tambahnya.
Usai aksi di simpang 4 Ramayana, para mahasiswa ini melanjutkan aksinya di Kantor DPRD Bontang.(*)
Laporan: Yulianti Basri
