Tenggarong. Di sela rangkaian Erau Adat Kutai, terdapat satu tradisi unik yang selalu ditunggu masyarakat, yakni Beseprah. Tradisi makan bersama ini digelar di depan Museum Mulawarman, Tenggarong, dengan melibatkan berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pejabat daerah hingga kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
Meski berasal dari latar belakang sosial yang berbeda, suasana kebersamaan begitu terasa. Para peserta duduk bersila melingkar, menikmati hidangan yang telah disajikan, dalam suasana akrab penuh kehangatan.
Dalam sejarahnya, Beseprah merupakan jamuan yang diadakan oleh Sultan bagi rakyatnya. Hidangan yang disuguhkan kala itu bukan sekadar santapan, tetapi simbol doa dan harapan agar pemimpin selalu mengayomi masyarakat. Tradisi ini juga menggambarkan kedekatan Sultan yang ingin merasakan kehidupan rakyatnya secara langsung.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kukar, Thauhid Afrilian Noor, mengatakan bahwa pelaksanaan Beseprah tidak hanya menjadi ajang makan bersama, melainkan juga sarat makna kebersamaan.
“Beseprah ini bukan sekadar sarapan massal, tetapi momentum untuk menumbuhkan rasa persaudaraan antarwarga. Dari sini kita belajar, pemimpin harus membaur dan merasakan apa yang dirasakan rakyatnya,” ujarnya.
Bupati Kutai Kartanegara, Aulia Rahman Basri, menambahkan bahwa tradisi ini juga menjadi pengingat pentingnya nilai persatuan.
“Melalui tradisi Beseprah ini, kita bisa melihat bagaimana semua elemen masyarakat duduk bersama tanpa memandang status. Inilah pesan moral yang diwariskan leluhur kita, bahwa kebersamaan adalah kekuatan,” tegasnya.
Lebih dari sekadar seremoni, Beseprah menjadi simbol persaudaraan dan kebersamaan di tanah Kutai—kabupaten tertua di Kalimantan Timur. Diharapkan, seluruh elemen masyarakat dapat terus memetik nilai luhur warisan leluhur yang tertuang dalam tradisi ini.



