Kukar  

Beluluh Awal Sultan: Gerbang Sakral Dimulainya Rangkaian Erau 2026

Tenggarong. Suasana Kota Raja Tenggarong mulai berdenyut menyambut perhelatan akbar Erau Adat Kuta Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Menjelang puncak acara yang dijadwalkan berlangsung pada 20 hingga 28 September 2026, kerabat kesultanan menggelar ritual sakral Beluluh Awal Sultan di Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
Ritual ini menjadi penanda resmi dimulainya rangkaian tradisi tahunan yang dinanti-nantikan masyarakat Kalimantan Timur tersebut. Dalam tradisi Kesultanan Kutai, ritual Beluluh Awal Sultan memegang peranan yang sangat krusial. Prosesi ini dimaknai sebagai upaya spiritual untuk membersihkan diri Sultan dari energi negatif, sekaligus memunculkan energi positif sebelum beliau menjalani berbagai rangkaian upacara adat yang padat selama sepekan ke depan.
Pelaksanaan ritual ini pun sarat dengan simbol-simbol adat. Sejumlah perlengkapan khusus disiapkan dengan teliti, di antaranya balai bambu kuning dengan 41 tiang yang dilapisi kain kuning, lengkap dengan berbagai sesajian sebagai bagian dari kelengkapan ritual sakral. Selama gelaran Erau berlangsung, prosesi Beluluh Sultan ini dijadwalkan akan dilaksanakan setiap hari di kedaton, yakni tepatnya setelah salat asar atau menjelang matahari terbenam.
Bupati Kutai Kartanegara, Aulia Rahman Basri, yang hadir dalam kesempatan tersebut menyampaikan apresiasi dan penghormatan mendalam kepada Sultan, kerabat kesultanan, para pemangku adat, pelaku seni dan budaya, serta seluruh masyarakat yang terus konsisten menjaga keberlanjutan Erau dari generasi ke generasi.
Menurut Aulia, Erau memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam ingatan kolektif masyarakat Kutai. Festival adat ini bukan sekadar tontonan, melainkan memuat nilai-nilai luhur yang diwariskan melalui tata upacara, bahasa, simbol, seni, tata krama, hingga perjumpaan langsung antara Sultan dan rakyatnya.
“Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara berkomitmen penuh untuk terus mendukung pelestarian adat dan budaya Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura secara berkelanjutan,” tegas Aulia Rahman Basri.
Komitmen Pemkab Kukar dalam mendukung pelestarian budaya tersebut diwujudkan nyata melalui berbagai program strategis. Mulai dari pendidikan budaya lokal, dokumentasi dan arsip sejarah, pembinaan seniman serta pelaku adat, perlindungan objek pemajuan kebudayaan, hingga pengembangan ruang ekspresi yang mengintegrasikan ekosistem pariwisata dan ekonomi kreatif.
Pemerintah daerah berharap, gelaran Erau tidak hanya berhenti sebagai agenda seremonial tahunan atau tontonan budaya semata. Lebih dari itu, Erau diharapkan mampu bertransformasi menjadi ruang pewarisan nilai dan perjumpaan antargenerasi agar tradisi leluhur tetap hidup, relevan, dan dipahami di tengah arus perubahan zaman.

 

Writer: fairuzz
Exit mobile version