Bontang. Jika sebagian orang memilih hewan lucu dan menggemaskan untuk dipelihara, berbeda dengan dua pria muda warga Tanjung Laut Indah Bontang Selatan ini. Mereka memilih tinggal bersama sejumlah hewan melata berbahaya, yang biasanya hidup dan berkembang biak di alam tropis, atau lazimnya banyak ditakuti manusia.
Randy Perkasa Putra (24) dan Nady Herdian (23), memilih tinggal bersama 45 hewan dengan 21 jenis spesies di rumahnya, dengan penangkaran seluas 36 meter persegi.
Keduanya merawat sekitar 23 ular didominasi jenis Phiton, 3 ekor biawak, 7 ekor kadal, 12 kura-kura, dan 4 gecko (sejenis tokek hias).
Diakui mereka, hewan-hewan tersebut didapat langsung dari peternak, mayoritas dari pulau Jawa dengan harga bervariasi. Mulai ratusan ribu, hingga belasan juta rupiah.
Meski begitu, mereka tidak memperjualbelikan binatang peliharaan yang hampir semuanya dirawat sejak kecil tersebut.
Dua lelaki yang bertugas di Kantor Bea Cukai Bontang ini mengatakan, kecintaannya terhadap binatang sejak kecil membuat dirinya tak merasa takut hidup berdampingan dengan binatang yang umumnya ditakuti banyak orang.
“Apalagi perawatan tidak rumit, hanya pembersihannya dilakukan setiap dua minggu sekali. Begitupun dengan pemberian makanan, juga tidak setiap hari, “ kata Randy.
Hidup berdampingan dengan ular dan biawak, kata menurut Nady tidaklah sesulit yang dibayangkan. Cukup dengan terbiasa berinteraksi.
Bahkan mereka berkeinginan untuk melestarikan dan mengenalkan binatang-binatang tersebut ke masyarakat, ditunjukkan melalui sejumlah sosialisasi di berbagai acara maupun sekolah-sekolah.
“Sekarang juga lewat komunitas Bontang Reptilia Community, yang sudah terbentuk,” ujar Nady.
Selain karena hobi, Randy dan Nady bersama rekannya di Bontang Reptilia Community (BORAC) juga kerap terlibat membantu petugas saat proses pencarian dan evakuasi ular beberapa waktu lalu. Bahkan hingga taraf perawatan terhadap hewan yang mengalami luka. (*)

*Beberapa jenis ular peliharaan Randy dan Nady
Laporan: Yuli | Nasrul