Samarinda. Dialog Serantau Borneo Kalimantan ke-16 resmi digelar di Hotel Harris, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, hingga 20 Juni 2025. Kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi dan kolaborasi para sastrawan Melayu dari Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam, dengan tujuan memperkuat eksistensi sastra Melayu serta merawat nilai estetika dan didaktikanya di kawasan Nusantara.
Dengan mengangkat tema “Nusantara dan Penguatan Sastra Melayu Merawat Estetika dan Didaktika,” forum ini diikuti sekitar 200 peserta dari kalangan sastrawan dan pegiat budaya. Kalimantan Timur sendiri menjadi tuan rumah untuk kedua kalinya sejak berdirinya organisasi Dialog Serantau pada tahun 1987.
Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji, yang hadir membuka acara, menyampaikan harapannya agar kegiatan ini dapat menjadi pemantik semangat generasi muda dalam mengenal dan mengembangkan karya sastra daerah.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan Dialog Serantau ini. Semoga melalui forum ini, karya sastra dari Kalimantan Timur bisa lebih dikenal dan diapresiasi, terutama oleh generasi muda kita,” ujarnya.
Sementara itu, anggota DPRD Kalimantan Timur, Sarkowi V. Zahry, menyampaikan rasa bangganya atas pelaksanaan kegiatan ini di Bumi Etam. Ia menekankan pentingnya memperluas jangkauan dan partisipasi negara dalam menjaga warisan budaya Melayu.
“Saya sangat bangga Kalimantan Timur menjadi tuan rumah. Harapannya ke depan, lebih banyak negara yang terlibat agar budaya Melayu semakin dikenal dan lestari,” tuturnya.
Kegiatan selama empat hari ini diisi dengan sejumlah agenda penting seperti dialog lintas negara, peluncuran antologi sastra, muhibah budaya, parade karya, serta pameran dan bazar buku. Dialog Serantau Borneo menjadi momentum strategis untuk mempererat hubungan budaya antarnegara serta menumbuhkan kembali kecintaan terhadap sastra Melayu di tengah arus globalisasi.
