Bontang. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang mengakui, ada banyak hambatan dalam pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang telah dilaksanakan selama masa pandemi COVID-19. Kondisi tersebut pun pada akhirnya menimbulkan dampak negatif, salah satunya yakni menyebabkan banyak peserta didik putus sekolah.
Pasalnya, ada beberapa alasan umum yang menyebabkan siswa putus sekolah di tengah pelaksanaan PJJ. Mulai dari siswa yang tidak fokus belajar karena harus membantu orang tuanya bekerja di tengah krisis pandemi, hingga berubahnya persepsi orang tua terhadap sekolah. Dimana orang tua merasa selama PJJ, sekolah seolah-olah menyerahkan proses pendidikan kepada orang tua, sementara orang tua belum tentu memiliki kemampuan memahami materi pelajaran anak-anaknya.
“Memang data pasti masih belum kami dapatkan, tetapi PJJ juga berpengaruh pada banyaknya anak yang putus sekolah,” ungkap Kabid Pendidikan Dasar Disdikbud Saparudin pada saat menjadi narasumber di PKTV Talk
Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Sekolah Mengah Pertama Yayasan Pupuk Kaltim (SMP YPK) Sinto. Menurutnya, selama pelaksanaan PJJ pembinaan karakter terhadap anak didik sangat sulit dilakukan, lantaran terpisahnya hubungan emosional dan chemistry antara guru dan anak didik yang biasanya terbangun saat pembelajaran tatap muka di sekolah.
Ditambahkan Saparudin, tidak hanya dua dampak tersebut saja yang muncul pada saat PJJ dilaksanakan, Disdikbud Kota Bontang juga mencatat, PJJ telah menyebabkan penurunan capaian belajar dengan kesenjangan yang semakin lebar akibat perbedaan akses dan kualitas pembelajaran.
“Untuk mengurangi dampak dari pelaksanaan PJJ, pemerintah saat ini tengah mewacanakan pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) pada juli mendatang, sembari menunggu perkembangan COVID-19 di kota bontang,” jelasnya.
Laporan: Tim Liputan PKTV
