Bontang. Kembangkan potensi usaha masyarakat berbasis inovasi dan keberlanjutan, PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) bekali 30 pelaku usaha binaan keterampilan Eco-Fashion dan Kriya, yang difokuskan pada pengembangan produk ecoprint dari pewarna alami.
VP TJSL Pupuk Kaltim, Rezha Abdillah, mengatakan pelatihan ini bagian penguatan ekonomi kreatif sekaligus penerapan prinsip sustainable fashion, dengan mendorong pelaku usaha binaan menghasilkan produk kreatif bernilai ekonomi, sekaligus memperluas peluang pasar melalui pemanfaatan bahan baku ramah lingkungan.
Kegiatan ini bagian dari Gerakan Mandiri Usaha Mikro Kecil (GEMA UMK), yang diinisiasi Pupuk Kaltim untuk menciptakan dampak sosial berkelanjutan bagi pelaku usaha binaan. Terlebih sejak 2024, Pupuk Kaltim telah memberi perhatian khusus terhadap pengembangan produk kreatif berbasis ecoprint, sebagai salah satu strategi pemberdayaan dan penguatan sektor ekonomi kreatif.
“Dengan pelatihan ini, Pupuk Kaltim terus berupaya menghadirkan program pemberdayaan yang mampu meningkatkan kapasitas para pelaku usaha agar semakin mandiri, inovatif, serta memiliki daya saing kuat,” ujar Rezha, saat membuka kegiatan di Kantor Pusat Pupuk Kaltim, Senin (20/7/2026).
Dijelaskan Rezha, ecoprint dipilih sebagai fokus pelatihan karena memiliki nilai tambah besar, baik dari aspek ekonomi maupun keberlanjutan lingkungan. Produk berbasis pewarna alami tidak hanya memiliki karakter yang unik, tetapi juga menjawab kebutuhan pasar terhadap produk yang lebih ramah lingkungan.
“Melalui pelatihan ini kami ingin peserta memahami ecoprint bukan sekadar teknik menghias kain, tapi peluang yang memiliki prospek sangat baik. Produk yang dihasilkan memiliki identitas, nilai seni, sekaligus membawa pesan tentang kepedulian terhadap lingkungan,” terang Rezha.
Selama tiga hari, mulai 20 hingga 22 Juli 2026, peserta mengikuti pelatihan yang memadukan pemaparan teori dan praktik langsung. Berbagai materi diberikan, mulai dari teknik dasar ecoprint, proses pewarnaan alami menggunakan daun, bunga, dan kayu, hingga penyusunan motif kreatif sebagai identitas produk. Selain itu, peserta juga dibekali strategi pengembangan usaha, peningkatan kualitas produk, serta pemasaran agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Hal ini juga upaya Pupuk Kaltim membangun ekosistem UMK yang tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tapi juga berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan melalui pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana. Dari hal itu, diharapkan akan semakin banyak pelaku usaha kreatif yang mampu mengembangkan produk berbasis kearifan lokal dengan sentuhan inovasi, sekaligus memperkuat daya saing di tengah meningkatnya permintaan terhadap produk berkonsep ramah lingkungan.
“Ecoprint bukan sekadar teknik membuat motif pada kain, tapi juga mencerminkan bagaimana kreativitas dapat berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan. Inilah sasaran yang ingin kami capai, sehingga pelaku usaha binaan turut jadi penggerak pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di Kota Bontang,” tambah Rezha.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (DKUMPP) Kota Bontang, Eko Arisandi, mengapresiasi komitmen Pupuk Kaltim yang secara konsisten mendukung pengembangan kapasitas usaha mikro kecil di Kota Bontang. Hal ini sejalan dengan arah pembangunan daerah 2025–2029, yang menempatkan transformasi industri dan ekonomi yang dinamis sebagai salah satu prioritas utama.
Dijelaskan Eko, ada beberapa aspek penting yang terus didorong pemerintah dalam pengembangan UMK. Di antaranya diversifikasi usaha dan produk, serta perluasan pangsa pasar sebagai peluang yang harus dimanfaatkan agar tidak hanya bergantung di pasar lokal.
“Kami terus berupaya agar produk lokal tidak hanya dipasarkan di Kota Bontang, tapi juga mampu menembus pasar luar daerah bahkan internasional. Harapan ini kami harap bisa dicapai dengan pelatihan ini,” ungkap Eko.
Guna mencapai itu, Eko menekankan kualitas produk harus terus ditingkatkan agar mampu bersaing di tengah kompetisi yang semakin ketat. Baik dari sisi desain, penggunaan bahan baku, maupun nilai tambah yang diberikan kepada konsumen.
Selain juga pentingnya transformasi ekonomi melalui penerapan konsep ekonomi sirkular, atau dari konsep linear menuju sistem ekonomi yang memaksimalkan pemanfaatan sumber daya agar dapat digunakan secara berkelanjutan. Dan Ecoprint menjadi salah satu langkah aplikatif mendorong itu, sekaligus memberi nilai tambah berkelanjutan melalui usaha masyarakat.
Dimana pelaku usaha dapat menerapkan proses produksi yang lebih efisien dan ramah lingkungan, termasuk mengurangi konsumsi energi, serta menggunakan bahan alami yang tersedia di sekitar.
“Makanya kami menyambut positif pelatihan Pupuk Kaltim ini, sebagai bentuk sinergi dengan pemerintah dalam membangun ketahanan ekonomi dan keberlanjutan di Kota Bontang,” kata Eko.
Salah satu peserta pelatihan, Wiji Rahayu, menyebut pelatihan ini memberi pengetahuan baru yang dapat diterapkan dalam pengembangan usahanya. Terlebih materi tidak hanya mengajarkan teknik ecoprint, tapi juga membuka wawasan mengenai pentingnya inovasi produk dan penerapan konsep ramah lingkungan dalam bisnis.
“Pelatihan ini sangat bermanfaat bagi kami dalam memahami teknik ecoprint dengan lebih baik. Termasuk wawasan tentang strategi pengembangan produk dan pemasaran agar usaha bisa terus berkembang,” tutur Wiji.
Dirinya berharap pelatihan serupa dapat terus dilaksanakan, karena menjadi ruang belajar sekaligus berbagi pengalaman antarpelaku UMKM. Adanya dukungan Pupuk Kaltim lewat GEMA UMK, Wiji optimistis produk lokal akan semakin berkualitas dan memiliki peluang lebih besar untuk bersaing di pasar lebih luas.
“Terima kasih kepada Pupuk Kaltim yang terus mendampingi pelaku usaha kecil di Kota Bontang. Ilmu selama pelatihan bisa kami terapkan untuk menghasilkan produk yang lebih kreatif dan ramah lingkungan untuk menjangkau pasar di luar Bontang,” tutup Wiji Rahayu.(*)
