Tenggarong. Untuk menyemarakkan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara menggelar Gerakan Pembagian 10 Juta Bendera Merah Putih, yang dipusatkan di Taman Tanjong, Tenggarong. Kegiatan ini mendapat antusiasme luar biasa dari masyarakat, dengan ratusan peserta yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat Kukar turut ambil bagian.
Acara diawali dengan penyerahan simbolis bendera Merah Putih oleh Bupati Kutai Kartanegara, Aulia Rahman Basri, kepada perwakilan Forum RT se-Kukar. Penyerahan ini turut disaksikan oleh Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-21, Aji Muhammad Arifin, serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
Tidak hanya pembagian bendera, kegiatan ini juga diisi dengan pembentangan spanduk dan konvoi kendaraan bermotor membawa bendera Merah Putih yang melintasi jalan protokol Kota Tenggarong, dan berakhir di halaman Kantor Bupati Kukar. Di lokasi tersebut, pembagian bendera dilanjutkan kepada para camat, penyandang disabilitas, organisasi masyarakat, serta perwakilan lembaga se-Kutai Kartanegara.
Acara ditutup dengan pelepasan balon udara dan pembentangan spanduk secara serentak, sebagai simbol dimulainya gerakan pemasangan bendera di seluruh penjuru Kukar.
Bupati Aulia Rahman Basri menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata untuk menumbuhkan kembali semangat nasionalisme dan menghormati jasa para pahlawan.
“Gerakan ini menjadi tanda dimulainya pemasangan Bendera Merah Putih mulai 1 Agustus di seluruh rumah, kantor, dan tempat pelayanan umum. Ini bentuk penghormatan kita terhadap perjuangan para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan Indonesia,” ujar Aulia.
Ia juga menyampaikan bahwa pada 17 Agustus 2025, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara akan menggelar upacara peringatan HUT RI ke-80 secara khidmat dan penuh semangat, melibatkan berbagai unsur masyarakat.
Gerakan ini diharapkan dapat membangkitkan kembali semangat persatuan, cinta tanah air, dan penghargaan terhadap nilai-nilai perjuangan bangsa, khususnya di kalangan masyarakat Kutai Kartanegara.
