Berikut ini wawancara kami bersama Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bontang Hj. Yuliatinur, MM terkait pengembangan industri pariwisata di Kota Bontang.
Bagaimana perkembangan industri pariwisata Kota Bontang selama ini?
Berdasarkan UU No.10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan Pasal 7,8,9, yang meliputi Perencanaan pembangunan kepariwisataan, ada 4 aspek yang perlu dikembangkan: Pembangunan Industri Pariwisata, Destinasi Pariwisata, Pemasaran, dan Kelembagaan Pariwisata. Terkait pengembangan industri pariwisata di Kota Bontang, sebagai kota industri Kota Bontang memiliki potensi yang besar dalam memajukan indusrti Pariwisata yang ada.
Oleh karena itu, dengan semangat Otonomi Daerah Kota Bontang relatif berusia muda (16 tahun), sementara Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bontang baru terbentuk Tahun 2008, menjadikan pengembangan industri pariwisata menjadi prioritas yang akan dikembangkan sesuai kondisi dan kebutuhan pariwisata masyarakat Kota Bontang.
Sampai tahun 2014, pembenahan dan pembangunan industri pariwisata masih terus dilakukan, walaupun belum secara maksimal dilihat dan dirasakan oleh masyarakat Kota Bontang. Salah satu rencana pengembangan pariwisata adalah pembangunan museum Industri di Kota Bontang yang masih pada tahap pembahasan lahan dan menunggu penetapan regulasi Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA) Kota Bontang.
Apa yang menjadi andalan wisata di Kota Bontang saat ini?
Mengingat Kota Bontang Daerah Otonomi Baru dari hasil pemekaran pada 1999 dari Kutai Induk, pengembangan potensi pariwisata terdiri dari dua bagian besar lokasi daerah pariwisata, yaitu daerah lokasi pariwisata yang berada dalam wilayah perusahaan (Pupuk Kaltim dan Badak LNG).
Bontang juga memiliki beberapa objek wisata yang potensial dan unggul, yang menjadi ikon wisata antara lain, Pulau Beras Basah, Destinasi Wisata Bontang Kuala, wisata kuliner, Waterboom Kenari Waterpark, Plaza Ramayana, Mangrove Berbas Pantai, P.Gusung, P. Selangan, Monumen Tugu Selamat Datang, Tugu Pengabdian Pupuk Kaltim, Kebun Cibodas, Danau Permai Pupuk Kaltim, Wisata Alam Wana Tirta, dan Pantai Marina Badak LNG.
Apa saja kendala dan tantangan yang dihadapi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dalam mengembangkan industri pariwisata di Kota Bontang?
Dalam usaha mengembangkan dan membangun dunia pariwisata di Kota Bontang, khususnya aspek pengembangan industri pariwisata, tentu memerlukan kerjasama dari lintas sektor dan stake holder. Dalam hal ini, dengan melibatkan semua pelaku usaha yang ada di Kota Bontang dapat bekerja sama dan bekerja keras agar dapat mencapai hasil maksimal.
Tentu, upaya tersebut harus kita gerakkan dengan cepat agar sasaran bisa terpenuhi, meskipun masih terdapat faktor yang menjadi kendala dalam meramu aspek, seperti aspek ketersedian sarana prasarana, keterbatasan angggaran yang sangat berpengaruh dalam upaya mewujudkan industri pariwisata yang maksimal di Kota Bontang.
Apa target Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bontang di Tahun 2015? Strategi apa yang disiapkan untuk mencapai target itu?
Sebagaimana kita ketahui, ada 6 Program Prioritas Walikota dan Wakil Walikota Bontang Periode 2011-2016. Pembangunan Kepariwisataan Kota Bontang termasuk ke dalam skala prioritas Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup. Mendasari aspek tersebut, pembangunan dan pengembangan pariwisata Tahun 2015 akan lebih menekankan pada pencapaian Rencana Kerja (RENJA) Disbudpar Kota Bontang lima tahun ke depan agar tercapai.
Penetapan regulasi yang sesuai target agar ada kontribusi dan peningkatan dari PAD Kota Bontang dari sektor pariwisata serta terpenuhi destinasi wisata dan obyek wisata lainnya yang dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Bontang sehingga tidak perlu lagi berwisata ke luar Bontang.
Bontang memiliki potensi besar destinasi wisata minat khusus seperti snorkeling, diving dan golf. Bagaimana upaya menarik investor untuk mendukung destinasi wisata ini?
Salah satu potensi destinasi pariwisata yang dimiliki Kota Bontang yang cukup potensial adalah snorkerling, diving, dan golf. Bontang memiliki wilayah laut 70% lebih luas daripada daratan. Tentu, pengembangan wisata bahari masih memerlukan kerja keras agar dapat dimaksimalkan untuk dikelola di masa yang akan datang. Khusus Wisata Bahari, dari 11 pulau-pulau kecil yang berada di sebelah luar Kota Bontang, Disbudpar telah melakukan kajian potensi wisata yang dapat dikembangkan.
Tentunya upaya ini memerlukan anggaran yang sangat besar, dan secara proporsi anggaran yang ada, tidak dapat semuanya dibiayai melalui APBD II Kota Bontang. Kita perlu mengajak pelaku-pelaku usaha swasta baik dari dalam maupun dari luar Kota Bontang untuk berperan aktif membangun destinasi wisata baru agar memberikan kontribusi dalam mengembangkan wisata Kota Bontang ke depannya.